Malam ini, aku hanya dirumah saja. Tidak seperti
mereka-mereka yang jalan-jalan, atau sekedar makan di cafe bersama
pasangannya masing-masing. Aku hanya bisa terdiam, terdiam menatap
keindahan langit di malam hari. Bintang bertaburan, menghiasi langit
biru dengan cahaya hangatnya. Bulan dengan bijaknya, menghangatkan hati
dan perasaanku dari dinginnya hembusan nafas di malam hari.
Beberapa waktu yang lalu, aku masih teringat, dimana aku pernah jatuh cinta. Kalau orang-orang menganggap jatuh cinta itu hal yang terindah, bagiku, itu anggapan yang bodoh.
Pernahkah kalian mengagumi seseorang? Atau adakah dari kalian-kalian yang sampai merasa jatuh cinta? Jika pernah, aku harap, kalian tak merasakan nasib yang sama dengan yang pernah kualami.
Hari itu, sekitar pukul 8, aku hanya terbaring dikasurku. Sambil membaca novel favorite yang baru saja ku beli di toko buku. “Raksasa dari jogja” judul novel itu. Kubaca lembar demi lembar, berisikan makna penting tentang cinta. Ya, lagi-lagi tentang cinta.
Bagiku, cinta itu omong kosong. Cinta hanya perasaan kagum pada seseorang yang dilebih-lebihkan. Mereka hanya senang menyebutnya dengan kata cinta.
Anganku menjadi-jadi, aku teringat akan kisah pahit yang dulu sempat ku jalani dengan seseorang.
Ceritanya begini…
Pada malam LDKS, setelah melewati berbagai acara pada malam itu, aku berniat untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba, seorang perempuan menghampiriku, lalu dengan singkat ia duduk disampingku.
Yang ternyata, adalah seseorang yang ku kenal. Dira, namanya. Ia menyapa ku dengan senyuman hangatnya, bertanya sedang apakah diriku, dan bicara banyak hal tentang hari yang melelahkan ini.
Keesokan harinya, kami semua pulang. Dengan bis pariwisata yang disewa oleh penyelenggara LDKS, alhasil, kami semua pulang dengan selamat. Aku pun pulang kerumah, mengakhiri kelelahan yang kurasakan, dengan tidur di kasur empuk beralaskan sprai hangat.
tit.. tit.. tit.. hapeku berdering setengah kencang. Kugapai perlahan, dan kulihat di layar, ternyata sebuah pesan masuk. Tak kusangka, ternyata itu dari Dira. Perbincangan kami pada malam LDKS itu, ternyata belum berakhir. Kami pun melakukan perbincangan via sms.
Begitupun seterusnya, pada hari-hari berikutnya, kami tetap melakukan hal yang sama. Berbincang di sms, dan terkadang, kami juga berbicara dengan menelpon. Seakan tak ada rasa bosan yang melanda pada diriku dan pada diri Dira tentunya.
Ada perasaan yang aneh, yang bergejolak dalam hati dan jiwaku. “Apa mungkin, aku jatuh cinta pada Dira?” kataku dalam hati.
Tidak, tidak mungkin. Aku tak bodoh merasakan hal itu, tapi ternyata aku tak mampu berbohong, ya, aku memang jatuh cinta padanya.
Semakin hari, semakin hangat saja rasanya hubungan tanpa status yang kami jalani. Aku selalu merasa nyaman saat sedang bersamanya, kuharap, Dira merasakan hal yang sama, dengan yang ku rasakan selama ini.
Hingga suatu hari, kubulatkan tekadku untuk melepaskan semua keraguan dalam hati ini. Ya, aku akan menjadikan Dira sebagai pacarku.
Malam itu, kucoba untuk mengirim pesan kepada Dira. Seraya bertanya apa yang sedang ia lakukan. Dira menjawabnya dengan singkat, bahwa ia hanya diam dan tak ada kesibukan sama sekali.
Ini satu-satunya kesempatanku, untuknya mengetahui apa yang kurasakan selama ini terhadapnya.
Tanpa basa-basi, aku pun mengirim pesan bermodalkan jantung yang masih berdetak cepat. “Dir, kamu ngerasain hal yang sama nggak sih, sama yang selama ini aku rasain?” kataku.
“perasaan apa?”.
“a-aku… aku suka sama kamu. aku nggak tau kenapa harus ngomong begini, yang jelas, aku ngerasain hal ini setiap dekat sama kamu. Dir, kamu mau nggak, jadi pacar aku” kataku dengan jantung yang semakin cepat detaknya.
“kak, sebenernya, aku juga ngerasain hal yang sama. Hemm, iya kak, aku mau jadian sama kakak”
dan semudah itu kita pacaran, semudah itu juga 2 insan yang berbeda jatuh cinta.
Sejak saat itu, semua berubah menjadi sangat berbeda. Suka cita menyertai keseharianku. Sampai-sampai tiada lagi duka lara yang kian menyelimuti ku dari kesepian.
Kian hari, kami berdua semakin hangat akan kebersamaan. Canda tawa yang tiada henti, bahagia sepanjang hari.
Tapi segalanya berubah, saat dia datang…
dia adalah Dimas. Dimas adalah teman dekat Dira dari SD, hubungan pertemanan mereka sangatlah erat. Hingga suatu hari, Dimas dengan berani mengajak Dira kencan, tanpa memperdulikan kami yang masih dalam status berpacaran.
“kak, gimana nih. Dimas ngajakin aku jalan…”.
“kok tanya aku sih? itu mah urusan kamu”.
“bener kak?”.
“iya lah” kata ku, pura-pura mengalah.
“yauda, aku jalan dulu ya sama dimas. Bye kak:*”.
DEG. Jantungku serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Aku tak habis pikir mengapa Dira tega mengirim balasan seperti itu.
Akhirnya kucoba mempercayakan kepada Dira untuk menjaga hatinya untukku, meski hati ini tetap tak tenang. Kubalas smsnya
“yaudah, kamu hati-hati ya sayang. jaga perasaan kamu buat aku, bye:)”.
1 menit, 2 menit, 3 menit.. Dira tidak membalas pesanku.
Tak terasa, 2 jam berlalu setelah pesan terakhir yang ku kirimkan ke Dira. Jujur, baru kali ini aku merasakan kegelisahan yang tiada tara. Aku tak siap mendengar bila Dira harus mengalami perubahan fisik maupun non fisik setelah ajakan kencan dari Dimas pada malam ini.
3 jam kemudian..
3 setengah jam kemudian..
Waktu menunjukkan hampir pukul 00.00 Atau jam dua belas malam. Aku tak tahan menahan semua kegelisahan ini, aku pun berniat me-miss call Dira untuk menanyakan keadaannya.
tut..tut..tut.. Ia belum mengangkatnya.
tut..tut..tut.. Masih belum diangkat juga.
tut..tut..tut.. BRAK! Aku melemparkan handphone-ku dengan penuh ke-kesalan. Seakan tak memperdulikan harga handphone tersebut. Ya, aku kehilangan kesadaran.
Waktu semakin bergulir, jam dinding menunjukkan pukul 01.00 atau pukul satu malam. Dira masih belum juga membalas pesanku 5 Jam yang lalu, tidak juga mencoba untuk membalas miss call-ku.
tit..tit..tit Akhirnya satu pesan masuk kuterima, dan itu dari Dira.
“kak, maaf aku nggak sempet bales sms kakak tadi. Maaf juga aku nggak sempet ngangkat telfon kakak tadi”.
“kamu kemana aja sih! kamu se-sibuk apa sih!? Sampe-sampe nggak nge-respon sms dan miss call dari aku!? HAH!”. Seraya menekan tombol “enter” dengan penuh keraguan untuk membentaknya.
“kak, nggak usah marah-marah gitu kek!”.
“aku nggak akan marah, kalo kamu nggak ngelakuin kesalahan. NGERTI!?”.
“terserah kamu aja deh kak!”.
Sms terakhirnya mengakhiri obrolan kami pada pagi-pagi buta itu…
Ke-esokan harinya…
Aku shock. Mendapati pesan masuk yang di kirim Dira, dan isinya adalah
“kak, maafin aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kakak. nggak bisa bertahan lagi sama kakak. sekarang, aku udah pacaran sama Dimas. kak Dimas anaknya baik kok, mama papa-nya juga baik sama aku. Makasih ya kak buat hari-harinya, bye:):)”.
Aku terdiam sejenak menatapi pesan yang di kirimkan Dira. Aku hanya tak habis pikir, mengapa Dira tega melakukan itu semua.
tanpa kusadari, air mataku jatuh, butir demi butir.
Dan pada saat itu juga, kusadari bahwa aku………. Menangis.
Entah mengapa, lelaki setengah dewasa seperti ku ini, ternyata bertekuk lutut di hadapan cinta. Air mataku pun tak kuat menahan sakit hati yang tiada henti.
Sering kali aku berpikiran, bahwa menangis bagi seorang lelaki itu adalah cengeng. Tapi pada kenyataannya, aku memang cengeng. Aku hanya tak mampu menghapus apa yang telah menghiasi keseharianku. Yang menemaniku di kala kesepian melanda hati. Yang menemaniku di kala aku ter-ikat problema kehidupan.
Mungkin di lain waktu, aku akan lebih hati-hati bertemu dengan cinta yang baru.
Beberapa waktu yang lalu, aku masih teringat, dimana aku pernah jatuh cinta. Kalau orang-orang menganggap jatuh cinta itu hal yang terindah, bagiku, itu anggapan yang bodoh.
Pernahkah kalian mengagumi seseorang? Atau adakah dari kalian-kalian yang sampai merasa jatuh cinta? Jika pernah, aku harap, kalian tak merasakan nasib yang sama dengan yang pernah kualami.
Hari itu, sekitar pukul 8, aku hanya terbaring dikasurku. Sambil membaca novel favorite yang baru saja ku beli di toko buku. “Raksasa dari jogja” judul novel itu. Kubaca lembar demi lembar, berisikan makna penting tentang cinta. Ya, lagi-lagi tentang cinta.
Bagiku, cinta itu omong kosong. Cinta hanya perasaan kagum pada seseorang yang dilebih-lebihkan. Mereka hanya senang menyebutnya dengan kata cinta.
Anganku menjadi-jadi, aku teringat akan kisah pahit yang dulu sempat ku jalani dengan seseorang.
Ceritanya begini…
Pada malam LDKS, setelah melewati berbagai acara pada malam itu, aku berniat untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba, seorang perempuan menghampiriku, lalu dengan singkat ia duduk disampingku.
Yang ternyata, adalah seseorang yang ku kenal. Dira, namanya. Ia menyapa ku dengan senyuman hangatnya, bertanya sedang apakah diriku, dan bicara banyak hal tentang hari yang melelahkan ini.
Keesokan harinya, kami semua pulang. Dengan bis pariwisata yang disewa oleh penyelenggara LDKS, alhasil, kami semua pulang dengan selamat. Aku pun pulang kerumah, mengakhiri kelelahan yang kurasakan, dengan tidur di kasur empuk beralaskan sprai hangat.
tit.. tit.. tit.. hapeku berdering setengah kencang. Kugapai perlahan, dan kulihat di layar, ternyata sebuah pesan masuk. Tak kusangka, ternyata itu dari Dira. Perbincangan kami pada malam LDKS itu, ternyata belum berakhir. Kami pun melakukan perbincangan via sms.
Begitupun seterusnya, pada hari-hari berikutnya, kami tetap melakukan hal yang sama. Berbincang di sms, dan terkadang, kami juga berbicara dengan menelpon. Seakan tak ada rasa bosan yang melanda pada diriku dan pada diri Dira tentunya.
Ada perasaan yang aneh, yang bergejolak dalam hati dan jiwaku. “Apa mungkin, aku jatuh cinta pada Dira?” kataku dalam hati.
Tidak, tidak mungkin. Aku tak bodoh merasakan hal itu, tapi ternyata aku tak mampu berbohong, ya, aku memang jatuh cinta padanya.
Semakin hari, semakin hangat saja rasanya hubungan tanpa status yang kami jalani. Aku selalu merasa nyaman saat sedang bersamanya, kuharap, Dira merasakan hal yang sama, dengan yang ku rasakan selama ini.
Hingga suatu hari, kubulatkan tekadku untuk melepaskan semua keraguan dalam hati ini. Ya, aku akan menjadikan Dira sebagai pacarku.
Malam itu, kucoba untuk mengirim pesan kepada Dira. Seraya bertanya apa yang sedang ia lakukan. Dira menjawabnya dengan singkat, bahwa ia hanya diam dan tak ada kesibukan sama sekali.
Ini satu-satunya kesempatanku, untuknya mengetahui apa yang kurasakan selama ini terhadapnya.
Tanpa basa-basi, aku pun mengirim pesan bermodalkan jantung yang masih berdetak cepat. “Dir, kamu ngerasain hal yang sama nggak sih, sama yang selama ini aku rasain?” kataku.
“perasaan apa?”.
“a-aku… aku suka sama kamu. aku nggak tau kenapa harus ngomong begini, yang jelas, aku ngerasain hal ini setiap dekat sama kamu. Dir, kamu mau nggak, jadi pacar aku” kataku dengan jantung yang semakin cepat detaknya.
“kak, sebenernya, aku juga ngerasain hal yang sama. Hemm, iya kak, aku mau jadian sama kakak”
dan semudah itu kita pacaran, semudah itu juga 2 insan yang berbeda jatuh cinta.
Sejak saat itu, semua berubah menjadi sangat berbeda. Suka cita menyertai keseharianku. Sampai-sampai tiada lagi duka lara yang kian menyelimuti ku dari kesepian.
Kian hari, kami berdua semakin hangat akan kebersamaan. Canda tawa yang tiada henti, bahagia sepanjang hari.
Tapi segalanya berubah, saat dia datang…
dia adalah Dimas. Dimas adalah teman dekat Dira dari SD, hubungan pertemanan mereka sangatlah erat. Hingga suatu hari, Dimas dengan berani mengajak Dira kencan, tanpa memperdulikan kami yang masih dalam status berpacaran.
“kak, gimana nih. Dimas ngajakin aku jalan…”.
“kok tanya aku sih? itu mah urusan kamu”.
“bener kak?”.
“iya lah” kata ku, pura-pura mengalah.
“yauda, aku jalan dulu ya sama dimas. Bye kak:*”.
DEG. Jantungku serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Aku tak habis pikir mengapa Dira tega mengirim balasan seperti itu.
Akhirnya kucoba mempercayakan kepada Dira untuk menjaga hatinya untukku, meski hati ini tetap tak tenang. Kubalas smsnya
“yaudah, kamu hati-hati ya sayang. jaga perasaan kamu buat aku, bye:)”.
1 menit, 2 menit, 3 menit.. Dira tidak membalas pesanku.
Tak terasa, 2 jam berlalu setelah pesan terakhir yang ku kirimkan ke Dira. Jujur, baru kali ini aku merasakan kegelisahan yang tiada tara. Aku tak siap mendengar bila Dira harus mengalami perubahan fisik maupun non fisik setelah ajakan kencan dari Dimas pada malam ini.
3 jam kemudian..
3 setengah jam kemudian..
Waktu menunjukkan hampir pukul 00.00 Atau jam dua belas malam. Aku tak tahan menahan semua kegelisahan ini, aku pun berniat me-miss call Dira untuk menanyakan keadaannya.
tut..tut..tut.. Ia belum mengangkatnya.
tut..tut..tut.. Masih belum diangkat juga.
tut..tut..tut.. BRAK! Aku melemparkan handphone-ku dengan penuh ke-kesalan. Seakan tak memperdulikan harga handphone tersebut. Ya, aku kehilangan kesadaran.
Waktu semakin bergulir, jam dinding menunjukkan pukul 01.00 atau pukul satu malam. Dira masih belum juga membalas pesanku 5 Jam yang lalu, tidak juga mencoba untuk membalas miss call-ku.
tit..tit..tit Akhirnya satu pesan masuk kuterima, dan itu dari Dira.
“kak, maaf aku nggak sempet bales sms kakak tadi. Maaf juga aku nggak sempet ngangkat telfon kakak tadi”.
“kamu kemana aja sih! kamu se-sibuk apa sih!? Sampe-sampe nggak nge-respon sms dan miss call dari aku!? HAH!”. Seraya menekan tombol “enter” dengan penuh keraguan untuk membentaknya.
“kak, nggak usah marah-marah gitu kek!”.
“aku nggak akan marah, kalo kamu nggak ngelakuin kesalahan. NGERTI!?”.
“terserah kamu aja deh kak!”.
Sms terakhirnya mengakhiri obrolan kami pada pagi-pagi buta itu…
Ke-esokan harinya…
Aku shock. Mendapati pesan masuk yang di kirim Dira, dan isinya adalah
“kak, maafin aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kakak. nggak bisa bertahan lagi sama kakak. sekarang, aku udah pacaran sama Dimas. kak Dimas anaknya baik kok, mama papa-nya juga baik sama aku. Makasih ya kak buat hari-harinya, bye:):)”.
Aku terdiam sejenak menatapi pesan yang di kirimkan Dira. Aku hanya tak habis pikir, mengapa Dira tega melakukan itu semua.
tanpa kusadari, air mataku jatuh, butir demi butir.
Dan pada saat itu juga, kusadari bahwa aku………. Menangis.
Entah mengapa, lelaki setengah dewasa seperti ku ini, ternyata bertekuk lutut di hadapan cinta. Air mataku pun tak kuat menahan sakit hati yang tiada henti.
Sering kali aku berpikiran, bahwa menangis bagi seorang lelaki itu adalah cengeng. Tapi pada kenyataannya, aku memang cengeng. Aku hanya tak mampu menghapus apa yang telah menghiasi keseharianku. Yang menemaniku di kala kesepian melanda hati. Yang menemaniku di kala aku ter-ikat problema kehidupan.
Mungkin di lain waktu, aku akan lebih hati-hati bertemu dengan cinta yang baru.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar