Part terakhir :')
***
Sudah tujuh tahun berlalu sekarang aku sudah dewasa dan bukan lagi Resya yang dulu, yang selalu manja pada siapa saja. bahkan tiga tahun terakhirku di Singapore aku tinggal sendirian karena orang tuaku telah kembali lebih dulu ke Indonesia. Sekarang aku sudah lulus kuliah jurusan manajemen dan membantu di perusahaan papaku. Hari ini aku memutuskan pulang ke Indonesia karena disuruh pulang oleh orang tuaku.
Aku rindu sekali dengan tanah airku. Apa semuanya masih sama seperti sebelum aku pergi? Nyatanya sudah banyak yang berubah disini, kecuali perasaan sayangku yang kian dalam terhadap seseorang. Orang itu adalah Arga, selama tujuh tahun ini kami memenuhi janji masing-masing tidak ada yang berusaha mencari walau nyatanya itu terasa berat bagiku.
Tapi semua sudah kuserahkan pada Tuhan kalau memang kami berjodoh biar saja rasa ini tumbuh dan akan selalu menjadi miliknya. Sebelum pulang ke rumah aku memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe favoritku, kafe depan toko buku langgananku. Tak disangka aku kembali bertemu Dita sahabat lamaku. Aku tidak membencinya walau aku marah padanya, tapi dia tetap sahabatku.
“Resya? Kapan pulang ? kok nggak pernah ngasih kabar?” Dita membuka percakapan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, “Satu-satu nanyanya, gue baru balik tuh koper gue masih di mobil. Gue sibuk banget disana jadi belum sempet pulang sampe sekarang. Gimana kabar lo?” jawabku seraya tersenyum padanya.
“Seperti yang lo liat gue baik, sekarang gue kerja sebagai manajer di kafe ini.” Aku mengangguk sambil menyesap kopiku, dan memperhatikan desain interior kafe ini, banyak perubahan namun tetap nyaman. Aku dan Dita tidak lagi saling bicara. Sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Dita terisak dan itu sangat membuatku kaget, “Lo kenapa ?” tanyaku panik.
“Resya, maafin gue gara-gara gue semuanya hancur! Gue temen lo yang paling jahat gue ngerusak semuanya. Gue pengecut nggak langsung minta maaf sampe lo pergi ke Singapore. Maafin gue Res!” Pernyataan Dita membuat dadaku agak sesak, “Gue udah maafin lo, dan gue mohon jangan bahas hal itu lagi, semua udah lewat Dit.” Aku berusaha tersenyum menghiburnya dan mengelus tangannya.
“Kalo aja gue nggak ngancurin semuanya nggak bakal kaya gini. Gue bikin lo pergi dari sini dan gue ngancurin hati lo berdua. Gue sadar Arga bukan buat gue. Sejak lo pergi jujur aja gue masih ngejar-ngejar dia, tapi dia tetep nolak dan ngindarin gue. Akhirnya setahun setelah lo pergi, Arga juga pergi dia ke Aussi lanjut kuliah disana, yang gue denger sekarang dia jadi pengacara hebat disana, dan sampe sekarang dia belum pernah balik lagi ke Indonesia.”
Apa, Arga juga pergi? Penjelasan Dita membuatku kembali ke tujuh tahun lalu, aku kembali merasa sakit, sedih dan kesal. “Dita, udah ya cukup gue mohon. Gue udah lupain semuanya, jangan bikin usaha gue sia-sia. Gue udah maafin lo kok.” Ucapku menahan air mata yang mungkin akan tumpah lagi, dari sekian lama aku tidak menangis. “Enggak Res, lo mesti tau semuanya. Tapi makasih lo mau maafin gue.” Aku hanya mampu tersenyum dan mengangguk pelan setelah itu aku segera berpamitan pulang, aku rasa jika terlalu lama disini akan membuatku kembali meneteskan air mata.
Di dalam mobil aku kembali teringat perkataan Dita, “...Gue sadar Arga bukan buat gue. Sejak lo pergi jujur aja gue masih ngejar-ngejar dia, tapi dia tetep nolak dan ngindarin gue. Sampe akhirnya setahun setelah lo pergi, Arga juga pergi dia ke Aussi lanjut kuliah disana, yang gue denger sekarang dia jadi pengacara hebat disana, dan sampe sekarang dia belum pernah balik lagi ke Indonesia.”
Lalu dimana Arga sekarang? Apa dia masih menyayangiku? Ternyata waktu tujuh tahun bukan yang cukup lama untuk melupakannya. Aku masih menyimpan rasa sayang dan rindu padanya, walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya kini padaku.
***
Sudah seminggu kepulanganku ke Indonesia, dan selama seminggu ini pikiranku masih dihantui oleh sosok Arga yang entah ada dimana keberadaanya sekarang, Ahh sudahlah aku sibuk sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan Arga . Malam ini keluargaku mengadakan pesta pembukaan anak perusahaan papaku dan aku yang bertugas memimpin perusahaan itu. Malam ini aku berdandan sederhana dengan gaun berwarna gading dan rambut yang di jepit kecil dan sisanya tergerai bebas sepinggang, cukup cantik pikirku.
Saat aku berdiri menyendiri di luar memandangi bintang yang bertebaran, kulihat orang tuaku di dalam sedang bercengkrama dengan orang tua Arga, jujur saja aku kaget tapi setelah ku ingat Lagi orang tuaku dan orang tua Arga adalah teman baik , tapi kok Arganya nggak ada ya? Aku agak kecewa.
Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang saat aku menoleh ternyata Arga ada dihadapanku. Ku lihat sosoknya yang hanya setengah meter dariku dia memakai setelan jas dengan kemeja biru bergaris putih tanpa dasi. Arga tampak lebih tinggi, lebih tampan dengan kulit putih bersih dan kacamata minus yang dipakainya membuat ia terlihat berwibawa dan jelas sosoknya semakin dewasa.
Aku tak mampu berkata-kata, hanya diam memandangnya dia pun tersenyum manis padaku, “Tujuh tahun Res, kita nggak ketemu. Aku selalu penasaran liat sosok kamu yang sekarang dan dugaanku nggak salah kamu masih sama Resya yang cantik, bahkan lebih cantik.” Perkataannya membuat hatiku terbang melayang, tapi tunggu dia kan pengacara pasti sangat pintar berkata-kata.
“Terimakasih atas pujiannya, kamu juga keliatan beda sekarang.” Aku tersenyum manis ke arahnya dan dia menatap mataku, jauh ke dalam mataku. Aku pun jengah dan ingin segera berlalu dari sana, tapi Arga menahan tanganku.
“kamu nggak penasaran kenapa aku bisa disini? Aku dipaksa ikut ke acara ini sama orang tuaku. Awalnya aku nolak dan males dateng ke acara semacam ini, tapi sekarang aku sangat berterima kasih sama mama, papaku karena memaksaku kesini. Saat sampai ku lihat seorang perempuan berdiri sendiri di taman memandang bintang dan aku tau itu kamu. Sungguh Res, ini bukan rencanaku, takdir yang membawaku kesini.”
Aku kembali terdiam mendengar ucapannya, aku sudah bukan Resya yang dulu, sekarang aku jauh lebih tenang menghadapi situasi ini, “Terus? Apa maksud kamu Ga?” Arga kembali menatapku tepat di manik mataku.
“Apa rasa itu masih ada buatku Res? Tujuh tahun aku nunggu kamu bahkan selama itu aku nggak pernah pulang kesini karena aku takut ketemu kamu dan kamu bakal bilang semua udah berakhir. Rasa ini masih tetap sama buat kamu Resya Ananda dan nggak akan pernah hilang, bagaimana sama kamu? ” aku bingung Arga bisa berubah dan bersikap manis padaku sesuatu yang nggak pernah bisa dia lakuin dulu.
“Kamu kenapa Ga? Kok bisa ngomong gitu? Kamu udah latihan dulu ya?” tanyaku usil, walaupun hatiku girang sekali. “Resya, aku nggak bercanda, aku sadar selama ini aku egois banget sama kamu, nggak bisa ngertiin kamu sampai saatnya kamu pergi ninggalin aku. Aku sadar betapa begonya aku sebagai pacar kamu waktu itu, dan aku tanya lagi bagaimana sama kamu, apa rasa itu masih ada buat aku?” Ya Tuhan ternyata dia serius dan sikap Arga manis sekali. Kata-katanya membuatku tersanjung.
“Kamu inget nggak? Sebelum aku pergi aku bilang, aku sayang kamu dan mudah-mudahan sampai waktu itu tiba. Sekarang ini saatnya aku ketemu kamu lagi, rasa itu nggak pernah pergi Ga dari hatiku, cuma mungkin sekarang terlalu cepet Ga, aku baru seminggu pulang udah banyak banget kejutan yang bawa aku balik ke tujuh tahun lalu.” Aku menjawab dengan sikap setenang mungkin dan kembali menatap Arga.
“Itu bukan kejutan Resya, tapi itu takdir antara kamu dan aku. Resya jangan buat semuanya kembali menjadi susah. Aku nggak mau lagi kehilangan kamu Res, kita udah sama-sama dewasa. Aku harap udah nggak ada lagi keegoisan pribadi antara kita. Aku mau kamu jujur sama perasaanmu Res. Jangan sampai kejadian tujuh tahun lalu keulang karena nggak ada kejujuran aku ke kamu.” Arga tampak sangat serius dan tegang sekali, dia menggenggam tanganku sekarang dan melanjutkan ucapannya “Aku udah nggak mau nunggu lagi, cukup tujuh tahun aku nyiksa perasaanku Resya. Sekarang seperti yang kamu liat, aku udah mapan, sikapku jauh lebih baik dari waktu zamannya kita SMA. Apa kamu mau menjadi ratuku di dalam istana kecilku, Resya? Tiga hari lagi aku harus balik ke Aussi, masih ada pekerjaan yang belum beres di sana.”
Apa? Arga melamarku sekarang, oh Tuhan inikah takdirku? Inikah jawaban atas segala pertanyaanku? Seorang cowok yang tepat berdiri di depanku sambil menggenggam tanganku memintaku untuk menjadi ratunya. “Kamu beda banget sih Ga. Jadi lucu deh, tapi aku seneng kamu masih mau nunggu aku dan bener-bener berubah buat aku, kamu mau bersikap manis dan bikin aku tersanjung, aku udah bilang kan Ga rasa ini nggak pernah pergi. Aku masih tetep sayang sama kamu.” Aku kembali tersenyum menatapnya, “Jadi, kamu mau jadi pendamping hidupku?” tanyanya kembali, ku lihat dia tersenyum cerah. Aku pun mengangguk pasti, tanda menerimanya kembali jadi bagian hidupku, bukan hanya sebagai pacarku, tapi sebagai pendamping hidupku.
Kami hanya saling menatap dalam diam ku pandangi matanya ada secercah kebahagiaan dan ketulusan di dalamnya. Arga kembali tersenyum dan memelukku lembut, “Terimakasih Resya, aku adalah orang paling beruntung malam ini dan sepanjang hidupku kelak.” Dia melepas pelukannya dan mengecup keningku lama. Aku sangat senang setelah tujuh tahun berlalu, Arga kembali padaku, dia masih tetap menyayangiku. Bahkan hari ini adalah hari terindah selama tujuh tahun penantian yang tidak pasti. Akhirnya penasaranku terjawab juga. Arga Dewanta dia masih orang yang sama orang yang selalu menyayangiku, bahkan jauh lebih baik dari yang selama ini ku kenal. Kisah penuh air mata itu terbalas dengan senyum kebahagiaan saat ini.
--END--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar