Kamis, 14 Februari 2013

Matematika

kalo udah bicara soal matematika, pasti yang sekarang ada di benak kalian adalah rumus ribet, angka angka yang bikin mumet, soal cerita panjang yang bikin empet dan ya blablabla apalah itu.. 
dear mathematic, bitch please…
Gue suka bingung sama para ahli dan penemu rumus rumus kampret itu. APA SIH MAKSUDNYA ITU BIKIN BIKIN RUMUS RIBET KAYAK GITU? HAH! apalah itu ngitung ngitung bangun datar, ngitung ngitung hektar tanah orang, kurang kerjaan banget. 
Selain bikin pusing, 78% pelajar yang bodoh dalam pelajaran ini mengatakan bahwa matematika itu bisa bikin STRES! Nggak percaya? Iyasih, gue juga nggak percaya.
Kalo dibandingkan dengan pelajaran lain, gue emang bisa dibilang benci banget sama matematika. 
eh tapi gue juga rada rada bego sama semua pelajaran sih…
Gue cuma nggak habis pikir sama temen temen gue yang pada pinter matematika, entah kemasukan iblis dari mana sampe sampe mereka bisa ngikutin pelajaran itu. 
tapi apapun yang terjadi, kita tetap nggak boleh menghina matematika.
karena dengan adanya pelajaran matematika, kita jadi bisa ngitungin duit, ngitungin jumlah mantan, ngitungin jumlah selingkuhan,
*plak* (tiba tiba di gampar sama firdan)
gue punya impian. Suatu hari nanti, gue akan berdiri tegak depan muka pak presiden buat demo penghapusan mata pelajaran Matematika.
dan gue yakin, gue nggak bakalan berani.
okey end of the story.. Untuk kalian para pelajar penerus bangsa, nggak usah di anggap serius sama cerita gue diatas ini tentang matematika. Just for fun aja kok, see you next story.

Minggu, 10 Februari 2013

Angan

Hai, apa kabar untuk kamu yang disana? Untuk kamu yang selalu berhasil membuatku tersenyum, untuk kamu yang selalu membuat hidupku jauh lebih berarti, untuk kamu yang selalu membuat hidupku jauh lebih bermakna.
tidakkah kamu mengira, kamu sangatlah berarti untukku?
Tahukah kamu? Aku hanya mampu mengagumimu dari kejauhan. Melihat sosok sempurna yang membuatku semangat menjalani kehidupan. Mungkinkah, aku jatuh cinta?
Ah, bodoh. Aku tak mungkin jatuh cinta padamu. Aku hanya manusia biasa, tidak seperti mereka-mereka yang mempunyai segalanya.
“kamu terlalu sempurna untuk ku miliki”.
Andai kamu mengetahui isi hatiku, andai kamu mengetahui perasaan yang ku simpan sejak lama, andai saja aku mempunyai keberanian untuk menyatakan semua yang kusimpan terhadapmu.
Aku pun lelah, aku pun tak mampu lagi untuk bertahan menyimpan perasaan  ini sendirian. “aku butuh kamu, aku butuh kamu sebagai tempatku untuk mencurahkan isi hati ini”.
Tapi ternyata Tuhan tak merestui kita, Tuhan tak merestui hubungan yang (sebenarnya) ingin ku bentuk bersamamu. Kamu telah menemukan seseorang yang jauh lebih sempurna daripada aku. Kamu telah menemukan dia. Dia yang punya segalanya, dia yang sempurna, dia yang selalu ada untuk mengisi setiap detik nafas yang kamu hembuskan.
Aku hanya terlalu cepat untuk merasakan indahnya jatuh cinta, terlebih lagi dengan sosok sempurna sepertimu. Tapi setidaknya, aku bahagia mengenalmu. Aku bahagia dekat denganmu, meski hanya sebentar.
Sebuah angan yang terlalu jauh untuk ku gapai, sebuah mimpi yang terlalu tinggi untuk ku capai, dan sebuah harapan yang terlanjur sirna untuk ku dapatkan.
“jujur saja, aku bahagia melihatmu dengannya. meski hati ini, tak pernah rela melepas bayang-bayangmu”.

Tangisan di akhir cerita

Malam ini, aku hanya dirumah saja. Tidak seperti mereka-mereka yang jalan-jalan, atau sekedar makan di cafe bersama pasangannya masing-masing. Aku hanya bisa terdiam, terdiam menatap keindahan langit di malam hari. Bintang bertaburan, menghiasi langit biru dengan cahaya hangatnya. Bulan dengan bijaknya, menghangatkan hati dan perasaanku dari dinginnya hembusan nafas di malam hari.
Beberapa waktu yang lalu, aku masih teringat, dimana aku pernah jatuh cinta. Kalau orang-orang menganggap jatuh cinta itu hal yang terindah, bagiku, itu anggapan yang bodoh. 
Pernahkah kalian mengagumi seseorang? Atau adakah dari kalian-kalian yang sampai merasa jatuh cinta? Jika pernah, aku harap, kalian tak merasakan nasib yang sama dengan yang pernah kualami.
Hari itu, sekitar pukul 8, aku hanya terbaring dikasurku. Sambil membaca novel favorite yang baru saja ku beli di toko buku. “Raksasa dari jogja” judul novel itu. Kubaca lembar demi lembar, berisikan makna penting tentang cinta. Ya, lagi-lagi tentang cinta.
Bagiku, cinta itu omong kosong. Cinta hanya perasaan kagum pada seseorang yang dilebih-lebihkan. Mereka hanya senang menyebutnya dengan kata cinta. 
Anganku menjadi-jadi, aku teringat akan kisah pahit yang dulu sempat ku jalani dengan seseorang.
Ceritanya begini…
Pada malam LDKS, setelah melewati berbagai acara pada malam itu, aku berniat untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba, seorang perempuan menghampiriku, lalu dengan singkat ia duduk disampingku.
Yang ternyata, adalah seseorang yang ku kenal. Dira, namanya. Ia menyapa ku dengan senyuman hangatnya, bertanya sedang apakah diriku, dan bicara banyak hal tentang hari yang melelahkan ini.
Keesokan harinya, kami semua pulang. Dengan bis pariwisata yang disewa oleh penyelenggara LDKS, alhasil, kami semua pulang dengan selamat. Aku pun pulang kerumah, mengakhiri kelelahan yang kurasakan, dengan tidur di kasur empuk beralaskan sprai hangat.
tit.. tit.. tit.. hapeku berdering setengah kencang. Kugapai perlahan, dan kulihat di layar, ternyata sebuah pesan masuk. Tak kusangka, ternyata itu dari Dira. Perbincangan kami pada malam LDKS itu, ternyata belum berakhir. Kami pun melakukan perbincangan via sms.
Begitupun seterusnya, pada hari-hari berikutnya, kami tetap melakukan hal yang sama. Berbincang di sms, dan terkadang, kami juga berbicara dengan menelpon. Seakan tak ada rasa bosan yang melanda pada diriku dan pada diri Dira tentunya.
Ada perasaan yang aneh, yang bergejolak dalam hati dan jiwaku. “Apa mungkin, aku jatuh cinta pada Dira?” kataku dalam hati.
Tidak, tidak mungkin. Aku tak bodoh merasakan hal itu, tapi ternyata aku tak mampu berbohong, ya, aku memang jatuh cinta padanya.
Semakin hari, semakin hangat saja rasanya hubungan tanpa status yang kami jalani. Aku selalu merasa nyaman saat sedang bersamanya, kuharap, Dira merasakan hal yang sama, dengan yang ku rasakan selama ini.
Hingga suatu hari, kubulatkan tekadku untuk melepaskan semua keraguan dalam hati ini. Ya, aku akan menjadikan Dira sebagai pacarku.
Malam itu, kucoba untuk mengirim pesan kepada Dira. Seraya bertanya apa yang sedang ia lakukan. Dira menjawabnya dengan singkat, bahwa ia hanya diam dan tak ada kesibukan sama sekali.
Ini satu-satunya kesempatanku, untuknya mengetahui apa yang kurasakan selama ini terhadapnya.
Tanpa basa-basi, aku pun mengirim pesan bermodalkan jantung yang masih berdetak cepat. “Dir, kamu ngerasain hal yang sama nggak sih, sama yang selama ini aku rasain?” kataku.
“perasaan apa?”.
“a-aku… aku suka sama kamu. aku nggak tau kenapa harus ngomong begini, yang jelas, aku ngerasain hal ini setiap dekat sama kamu. Dir, kamu mau nggak, jadi pacar aku” kataku dengan jantung yang semakin cepat detaknya.
“kak, sebenernya, aku juga ngerasain hal yang sama. Hemm, iya kak, aku mau jadian sama kakak”
dan semudah itu kita pacaran, semudah itu juga 2 insan yang berbeda jatuh cinta.
Sejak saat itu, semua berubah menjadi sangat berbeda. Suka cita menyertai keseharianku. Sampai-sampai tiada lagi duka lara yang kian menyelimuti ku dari kesepian.
Kian hari, kami berdua semakin hangat akan kebersamaan. Canda tawa yang tiada henti, bahagia sepanjang hari. 
Tapi segalanya berubah, saat dia datang…
dia adalah Dimas. Dimas adalah teman dekat Dira dari SD, hubungan pertemanan mereka sangatlah erat. Hingga suatu hari, Dimas dengan berani mengajak Dira kencan, tanpa memperdulikan kami yang masih dalam status berpacaran.
“kak, gimana nih. Dimas ngajakin aku jalan…”.
“kok tanya aku sih? itu mah urusan kamu”.
“bener kak?”.
“iya lah” kata ku, pura-pura mengalah.
“yauda, aku jalan dulu ya sama dimas. Bye kak:*”.
DEG. Jantungku serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Aku tak habis pikir mengapa Dira tega mengirim balasan seperti itu.
Akhirnya kucoba mempercayakan kepada Dira untuk menjaga hatinya untukku, meski hati ini tetap tak tenang. Kubalas smsnya
“yaudah, kamu hati-hati ya sayang. jaga perasaan kamu buat aku, bye:)”.
1 menit, 2 menit, 3 menit.. Dira tidak membalas pesanku.
Tak terasa, 2 jam berlalu setelah pesan terakhir yang ku kirimkan ke Dira. Jujur, baru kali ini aku merasakan kegelisahan yang tiada tara. Aku tak siap mendengar bila Dira harus mengalami perubahan fisik maupun non fisik setelah ajakan kencan dari Dimas pada malam ini.
3 jam kemudian..
3 setengah jam kemudian..
Waktu menunjukkan hampir pukul 00.00 Atau jam dua belas malam. Aku tak tahan menahan semua kegelisahan ini, aku pun berniat me-miss call Dira untuk menanyakan keadaannya.
tut..tut..tut.. Ia belum mengangkatnya.
tut..tut..tut.. Masih belum diangkat juga.
tut..tut..tut.. BRAK! Aku melemparkan handphone-ku dengan penuh ke-kesalan. Seakan tak memperdulikan harga handphone tersebut. Ya, aku kehilangan kesadaran.
Waktu semakin bergulir, jam dinding menunjukkan pukul 01.00 atau pukul satu malam. Dira masih belum juga membalas pesanku 5 Jam yang lalu, tidak juga mencoba untuk membalas miss call-ku.
tit..tit..tit Akhirnya satu pesan masuk kuterima, dan itu dari Dira.
“kak, maaf aku nggak sempet bales sms kakak tadi. Maaf juga aku nggak sempet ngangkat telfon kakak tadi”.
“kamu kemana aja sih! kamu se-sibuk apa sih!? Sampe-sampe nggak nge-respon sms dan miss call dari aku!? HAH!”. Seraya menekan tombol “enter” dengan penuh keraguan untuk membentaknya.
“kak, nggak usah marah-marah gitu kek!”.
“aku nggak akan marah, kalo kamu nggak ngelakuin kesalahan. NGERTI!?”.
“terserah kamu aja deh kak!”.
Sms terakhirnya mengakhiri obrolan kami pada pagi-pagi buta itu…
Ke-esokan harinya…
Aku shock. Mendapati pesan masuk yang di kirim Dira, dan isinya adalah
“kak, maafin aku nggak bisa jadi yang terbaik buat kakak. nggak bisa bertahan lagi sama kakak. sekarang, aku udah pacaran sama Dimas. kak Dimas anaknya baik kok, mama papa-nya juga baik sama aku. Makasih ya kak buat hari-harinya, bye:):)”.
Aku terdiam sejenak menatapi pesan yang di kirimkan Dira. Aku hanya tak habis pikir, mengapa Dira tega melakukan itu semua.
tanpa kusadari, air mataku jatuh, butir demi butir.
Dan pada saat itu juga, kusadari bahwa aku………. Menangis.
Entah mengapa, lelaki setengah dewasa seperti ku ini, ternyata bertekuk lutut di hadapan cinta. Air mataku pun tak kuat menahan sakit hati yang tiada henti.
Sering kali aku berpikiran, bahwa menangis bagi seorang lelaki itu adalah  cengeng. Tapi pada kenyataannya, aku memang cengeng. Aku hanya tak mampu menghapus apa yang telah menghiasi keseharianku. Yang menemaniku di kala kesepian melanda hati. Yang menemaniku di kala aku ter-ikat problema kehidupan.
Mungkin di lain waktu, aku akan lebih hati-hati bertemu dengan cinta yang baru.

Semakin ku pendam, Semakin kau jauh.

Disuatu ketika, 2 orang sahabat; si Cowok dan si Cewek, sedang duduk-duduk di Taman. Mereka berbincang asik, sampai pada akhirnya, si Cowok membuka percakapan.
“Eh, menurut lo, sekarang saat yang tepat gak sih buat nembak gebetan gue?” Kata si Cowok, bertanya kepada sahabatnya; si Cewek.
Si Cewek terdiam, matanya sempat ingin mengeluarkan air mata mendengar pernyataan sahabatnya tersebut. Ia mencoba tegar.
“Terserah lo, ikutin apa kata hati lo aja”. Kata si Cewek, dengan nada pasrah dan kecewa.
“Lo serius? Gue sih pengennya nembak sekarang, soalnya gue udah terlanjur sayang banget nih sama gebetan gue”. Kata si Cowok, frontal.
JLEB! Hatinya seperti ditusuk sebilah pedang. Si Cewek hancur, harapannya pupus ditengah jalan untuk mendapatkan si Cowok, sahabatnya sendiri.
Si Cewek menyesal, karena dulu, ia pernah mendapatkan kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya ke si Cowok. Tapi ia takut.
“Lo kenapa?” Kata si Cowok, bingung melihat ekspresi wajah si Cewek.
“Gapapa kok, udah, lo tembak aja tuh gebetan lo”. Kata si Cewek, dengan nada suara yang makin melemah. Ia hampir menangis.
“Oke hari ini juga, gue bakalan nembak gebetan gue. Hehe, makasih ya sarannya”. Kata si Cowok, seraya tersenyum lebar.
Si Cewek hanya bisa terdiam. Ia tak sanggup lagi menahan tangis, hatinya sudah terlalu lemah untuk bertahan. Ia memutuskan untuk pulang.
Pada akhirnya, si Cewek hanya bisa pasrah. Ia memandang lurus sahabatnya yang sudah berstatus pacaran. Si Cowok, kini telah bahagia dengan seseorang.
———-Tamat———-
Hikmah: Jangan suka memendam perasaan terlalu lama, karena pada akhirnya, kamu akan menyesal karena gak sempet buat ngungkapin semuanya.

Jumat, 25 Januari 2013

You Must Know !


Gue duduk di starbucks malam ini, ditemani laptop dan BB what?? BB??? tai lah... yang setia di samping gue. Siapa yang nemenin gue ? itu ga penting banget karena yang pasti gue ga sendirian ngenes di pojokan starbucks. Malam ini iseng gue buka web dan menemukan beberapa berita fenomenal yang menjadi trend masa kini, atau bisa kita sebut ini trend yang sangat tidak baik untuk di tiru tapi justru menjamur.


Pertanyaan gue saat membaca artikel web itu Cuma satu, “ada apa dengan moral Negara ini ?”
Negara ini menjunjung Pancasila yang pernah kita pelajari dari awal bangku sekolah.
Ooohh tidak bisa ! miris bung, hidup ini kejam dan Pancasila seperti tidak ada harganya lagi.
 

Dimana rasa malu saat kalian mengikuti trend yang sesungguhnya tidak baik ? bagaimana nasib orang di sekitar kita bila sampai terjadi hal serupa ?


Gue Cuma bisa bilang “MIRIS”.


Seperti yang gue jabarin di atas, trend yang ada sekarang ini banyak yang merupakan pengaruh buruk untuk bangsa ini dan gue ambil 1 trend yang buat gue paling terhentak, Broken Home/perceraian.



malam ini hujan turun lagi,
bersama kenangan yang mungkin luka di hati,
luka yang harusnya dapat terobati,
yang ku harap tiada pernah terjadi,

ku ingat saat ayah pergi dan kami mulai kelapran,
hal yang biasa buat aku hidup di jalanan,
di saat ku belum mengerti arti sebuah perceraian,
yang hancurkan semua hal indah yang dulu pernah aku miliki,

wajar bila saat ini ku iri pada kalian yang hidup bahagia berkat susana indah dalam rumah,
hal yang selalu aku berikan dengan hidup ku yang kelam,
tiada harga diri agar hidup ku terus bertahan,

mungkin sejenak dapat aku lupakan,
dengan minuman keras yang saat ini ku genggam,
atau menggoreskan kaca di lengan ku,
apapun kan ku lakukan ku ingin lupakan,

namun bila ku muliai sadar dari sisa mabuk semalam,
perihnya luka ini semakin dalam ku rasakan,
di saat ku telah mengerti betapa indah di cintai,
hal yang tak perah ku dapatkan sejak aku hidup di jalanan,


Last Child-Diary Depresiku



Dalam keadaan merenung ini gue baca lirik lagu dari band bernama Last Child ini, kebetulan memang lagu berjudul Diary Depresiku ini adalah kisah nyata dari sang vocalis. Ikut sakit saat membayangkan bagaimana nasib anak-anak korban broken home 

Bagi kalian yang hidup normal tetapi banyak mengeluh, pernahkah kalian sadar bahwa keluarga yang utuh itu lebih berharga ketimbang harta dan dimanjakan ? 

Pernah bayangin kalau kalian tak memiliki keluarga yang utuh ? atau keluarga kalian sendiri rusak karena kedua orang tua yang tidak akur ?

Bagaimana rasanya ? dan pantaskah kalian merasa lebih tinggi dari mereka yang broken home ???

Ohhh Tidak bisaaa ! 

Pikiran seperti itu sama saja menunjukan bahwa kalian tak pernah punya hati dalam menjalani hidup.


Kembali dalam pancasila Negara besar kita ini, masih ingat sila pertama ? KETUHANAN YANG MAHA ESA. Kita hidup di Negara timur yang beradap, kita juga memiliki asas KETUHANAN, semua orang yang memiliki agama paham bahwa perceraian itu sangat lah di benci oleh Tuhan apapun agamanya. Mungkin ada alasan bahwa itu jalan terbaik bagi kedua orang tua kita karena tak pernah akur, disini gue punya pertanyaan besar buat para orang tua yang mengatakan cerai adalah jalan terbaik.

“Emang kemana aja kalian pas masa PDKT, Pacaran, dan berkenalan ? kenapa tidak memahami karakter masing-masing lebih dalam ? kenapa tidak mempelajari kehidupannya dan keluarganya lebih dalam ?”

Lebih baik sebelum menjalani pernikahan kita bisa memikirkan yang baik dan buruknya bila berpasangan, cermat dalam memilih, ketahui lebih dalam dan barulah menikah.
Menikah ga sama dengan pacaran yang bisa putus nyambung semaunya, tapi anehnya memang pernikahan sekarang sama dengan pacaran yang bisa putus nyambung, MI to the RIS. MIRIS !


Sebagai korban broken home tentu saja anaklah yang paling mendapatkan pukulan, bagaimana kondisinya secara psikologis ? bisakah dia di terima dan menerima lingkungannya secara normal ?





Anak selalu menjadi korban dari kisah ini, tetapi itu juga bukan kesalahan mereka walaupun nantinya hidup membawa beban tersendiri. Ga selamanya anak broken home itu rusak dan di ambil garis lurus serusak ortunya. Justru menurut gue anak-anak broken home bisa lebih baik dari anak yang hidup normal karena mereka telah mengetahui pahitnya hidup sejak kecil.

Apa yang membuat kamu harus takut sebagai anak broken home ? malu ? ooohhh tidak perlu ! kalian cukup menjadi diri sendiri dan buktikan kalau bisa berhasil !

Kalian adalah anak-anak yang wajib belajar dari masa lalu dan jangan sampai mengulanginya lagi dalam kehidupan kalian nantinya.
 
Kalian bisa buktikan kalau kalian ini adalah anak-anak terpilih yang bisa sukses dikemudian hari walaupun tidak sempurna, kalian ini hebat !

So, buat sahabat-sahabat gue yang broken home, hidup itu memang berat, tapi tunjukan pada dunia kalian bisa bangkit dari keterpurukan !

Buat kalian yang hidup di lingkungan keluarga yang lengkap dan bahagia, wajib bagi kalian untuk bersyukur dan jangan pernah melakukan trend yang bodoh ini di kehidupan kalian nantinya.



Pertanyaannya, bisakah kita rubah trend perceraian yang bobrok ini ?

Sabtu, 05 Januari 2013

akhirnya terjawab juga bab 3


Part terakhir :')

***

Sudah tujuh tahun berlalu sekarang aku sudah dewasa dan bukan lagi Resya yang dulu, yang selalu manja pada siapa saja. bahkan tiga tahun terakhirku di Singapore aku tinggal sendirian karena orang tuaku telah kembali lebih dulu ke Indonesia. Sekarang aku sudah lulus kuliah jurusan manajemen dan membantu di perusahaan papaku. Hari ini aku memutuskan pulang ke Indonesia karena disuruh pulang oleh orang tuaku.

Aku rindu sekali dengan tanah airku. Apa semuanya masih sama seperti sebelum aku pergi? Nyatanya sudah banyak yang berubah disini, kecuali perasaan sayangku yang kian dalam terhadap seseorang. Orang itu adalah Arga, selama tujuh tahun ini kami memenuhi janji masing-masing tidak ada yang berusaha mencari walau nyatanya itu terasa berat bagiku.

Tapi semua sudah kuserahkan pada Tuhan kalau memang kami berjodoh biar saja rasa ini tumbuh dan akan selalu menjadi miliknya. Sebelum pulang ke rumah aku memutuskan untuk mampir ke sebuah kafe favoritku, kafe depan toko buku langgananku. Tak disangka aku kembali bertemu Dita sahabat lamaku. Aku tidak membencinya walau aku marah padanya, tapi dia tetap sahabatku.

“Resya? Kapan pulang ? kok nggak pernah ngasih kabar?” Dita membuka percakapan dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, “Satu-satu nanyanya, gue baru balik tuh koper gue masih di mobil. Gue sibuk banget disana jadi belum sempet pulang sampe sekarang. Gimana kabar lo?” jawabku seraya tersenyum padanya.
“Seperti yang lo liat gue baik, sekarang gue kerja sebagai manajer di kafe ini.” Aku mengangguk sambil menyesap kopiku, dan memperhatikan desain interior kafe ini, banyak perubahan namun tetap nyaman. Aku dan Dita tidak lagi saling bicara. Sibuk dengan pikiran masing-masing, tiba-tiba Dita terisak dan itu sangat membuatku kaget, “Lo kenapa ?” tanyaku panik.

“Resya, maafin gue gara-gara gue semuanya hancur! Gue temen lo yang paling jahat gue ngerusak semuanya. Gue pengecut nggak langsung minta maaf sampe lo pergi ke Singapore. Maafin gue Res!” Pernyataan Dita membuat dadaku agak sesak, “Gue udah maafin lo, dan gue mohon jangan bahas hal itu lagi, semua udah lewat Dit.” Aku berusaha tersenyum menghiburnya dan mengelus tangannya.

“Kalo aja gue nggak ngancurin semuanya nggak bakal kaya gini. Gue bikin lo pergi dari sini dan gue ngancurin hati lo berdua. Gue sadar Arga bukan buat gue. Sejak lo pergi jujur aja gue masih ngejar-ngejar dia, tapi dia tetep nolak dan ngindarin gue. Akhirnya setahun setelah lo pergi, Arga juga pergi dia ke Aussi lanjut kuliah disana, yang gue denger sekarang dia jadi pengacara hebat disana, dan sampe sekarang dia belum pernah balik lagi ke Indonesia.”

Apa, Arga juga pergi? Penjelasan Dita membuatku kembali ke tujuh tahun lalu, aku kembali merasa sakit, sedih dan kesal. “Dita, udah ya cukup gue mohon. Gue udah lupain semuanya, jangan bikin usaha gue sia-sia. Gue udah maafin lo kok.” Ucapku menahan air mata yang mungkin akan tumpah lagi, dari sekian lama aku tidak menangis. “Enggak Res, lo mesti tau semuanya. Tapi makasih lo mau maafin gue.” Aku hanya mampu  tersenyum dan mengangguk pelan setelah itu aku segera berpamitan pulang, aku rasa jika terlalu lama disini akan membuatku kembali meneteskan air mata.

Di dalam mobil aku kembali teringat perkataan Dita, “...Gue sadar Arga bukan buat gue. Sejak lo pergi jujur aja gue masih ngejar-ngejar dia, tapi dia tetep nolak dan ngindarin gue. Sampe akhirnya setahun setelah lo pergi, Arga juga pergi dia ke Aussi lanjut kuliah disana, yang gue denger sekarang dia jadi pengacara hebat disana, dan sampe sekarang dia belum pernah balik lagi ke Indonesia.”

Lalu dimana Arga sekarang? Apa dia masih menyayangiku? Ternyata waktu tujuh tahun bukan yang cukup lama untuk melupakannya. Aku masih menyimpan rasa sayang dan rindu padanya, walaupun aku sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya kini padaku.
***
Sudah seminggu kepulanganku ke Indonesia, dan selama seminggu ini pikiranku masih dihantui oleh sosok Arga yang entah ada dimana keberadaanya sekarang, Ahh sudahlah aku sibuk sekarang  ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan Arga . Malam ini keluargaku mengadakan pesta pembukaan anak perusahaan papaku dan aku yang bertugas memimpin perusahaan itu. Malam ini aku berdandan sederhana dengan gaun berwarna gading dan rambut yang di jepit kecil dan sisanya tergerai bebas sepinggang, cukup cantik pikirku.

Saat aku berdiri menyendiri di luar memandangi bintang yang bertebaran, kulihat orang tuaku di dalam sedang bercengkrama dengan orang tua Arga, jujur saja aku kaget tapi setelah ku ingat Lagi orang tuaku dan orang tua Arga adalah teman baik , tapi kok Arganya nggak ada ya? Aku agak kecewa.

Tiba-tiba ada yang menepuk bahuku dari belakang saat aku menoleh ternyata Arga ada dihadapanku. Ku lihat sosoknya yang hanya setengah meter dariku dia memakai setelan jas dengan kemeja biru bergaris putih tanpa dasi. Arga tampak lebih tinggi, lebih tampan dengan kulit putih bersih dan kacamata minus yang dipakainya membuat ia terlihat berwibawa dan jelas sosoknya semakin dewasa.

Aku tak mampu berkata-kata, hanya diam memandangnya dia pun tersenyum manis padaku, “Tujuh tahun Res, kita nggak ketemu. Aku selalu penasaran liat sosok kamu yang sekarang dan dugaanku nggak salah kamu masih sama Resya yang cantik, bahkan lebih cantik.” Perkataannya membuat hatiku terbang melayang, tapi tunggu dia kan pengacara pasti sangat pintar berkata-kata.

“Terimakasih atas pujiannya, kamu juga keliatan beda sekarang.”  Aku tersenyum manis ke arahnya dan dia menatap mataku, jauh ke dalam mataku. Aku pun jengah dan ingin segera berlalu dari sana, tapi Arga menahan tanganku.
“kamu nggak penasaran kenapa aku bisa disini? Aku dipaksa ikut ke acara ini sama orang tuaku. Awalnya aku nolak dan males dateng ke acara semacam ini, tapi sekarang aku sangat berterima kasih sama mama, papaku karena memaksaku  kesini. Saat sampai ku lihat seorang perempuan berdiri sendiri di taman memandang bintang dan aku tau itu kamu. Sungguh Res, ini bukan rencanaku, takdir yang membawaku kesini.”

Aku kembali terdiam mendengar ucapannya, aku sudah bukan Resya yang dulu, sekarang aku jauh lebih tenang menghadapi situasi ini, “Terus? Apa maksud kamu Ga?” Arga kembali menatapku  tepat di manik mataku.
“Apa rasa itu masih ada buatku Res? Tujuh tahun aku nunggu kamu bahkan selama itu aku nggak pernah pulang kesini karena aku takut ketemu kamu dan kamu bakal bilang semua udah berakhir. Rasa ini masih tetap sama buat kamu Resya Ananda dan nggak akan pernah hilang, bagaimana sama kamu? ” aku bingung Arga bisa berubah dan bersikap manis padaku sesuatu yang nggak pernah bisa dia lakuin dulu.

“Kamu kenapa Ga? Kok bisa ngomong gitu? Kamu udah latihan dulu ya?” tanyaku usil, walaupun hatiku girang sekali. “Resya, aku nggak bercanda, aku sadar selama ini aku egois banget sama kamu, nggak bisa ngertiin kamu sampai saatnya kamu pergi ninggalin aku. Aku sadar betapa begonya aku sebagai pacar kamu waktu itu, dan aku tanya lagi bagaimana sama kamu, apa rasa itu masih ada buat aku?” Ya Tuhan ternyata dia serius dan sikap Arga manis sekali. Kata-katanya membuatku tersanjung.

“Kamu inget nggak? Sebelum aku pergi aku bilang, aku sayang kamu dan mudah-mudahan sampai waktu itu tiba. Sekarang ini saatnya aku ketemu kamu lagi, rasa itu nggak pernah pergi Ga dari hatiku, cuma mungkin sekarang terlalu cepet Ga, aku baru seminggu pulang udah banyak banget kejutan yang bawa aku balik ke tujuh tahun lalu.” Aku menjawab dengan sikap setenang mungkin dan kembali menatap Arga.

“Itu bukan kejutan Resya, tapi itu takdir antara kamu dan aku. Resya jangan buat semuanya kembali menjadi susah. Aku nggak mau lagi kehilangan kamu Res, kita udah sama-sama dewasa. Aku harap udah nggak ada lagi keegoisan pribadi antara kita. Aku mau kamu jujur sama perasaanmu Res. Jangan sampai kejadian tujuh tahun lalu keulang karena nggak ada kejujuran aku ke kamu.”  Arga tampak sangat serius dan tegang sekali, dia menggenggam tanganku sekarang dan melanjutkan ucapannya “Aku udah nggak mau nunggu lagi, cukup tujuh tahun aku nyiksa perasaanku Resya. Sekarang seperti  yang kamu liat, aku udah mapan, sikapku jauh lebih baik dari waktu zamannya kita SMA. Apa kamu mau menjadi ratuku di dalam istana kecilku, Resya? Tiga hari lagi aku harus balik ke Aussi, masih ada pekerjaan yang belum beres di sana.”

Apa? Arga melamarku sekarang, oh Tuhan inikah takdirku? Inikah jawaban atas segala pertanyaanku? Seorang cowok yang tepat berdiri di depanku sambil menggenggam tanganku memintaku untuk menjadi ratunya. “Kamu beda banget sih Ga.  Jadi lucu deh, tapi aku seneng kamu masih mau nunggu aku dan bener-bener berubah buat aku, kamu mau bersikap manis dan bikin aku tersanjung, aku udah bilang kan Ga rasa ini nggak pernah pergi. Aku masih tetep sayang sama kamu.” Aku kembali tersenyum menatapnya, “Jadi, kamu mau jadi pendamping hidupku?” tanyanya kembali, ku lihat dia tersenyum cerah. Aku pun mengangguk pasti, tanda menerimanya kembali jadi bagian hidupku, bukan hanya sebagai pacarku, tapi sebagai pendamping hidupku.

Kami hanya saling menatap dalam diam ku pandangi matanya ada secercah kebahagiaan dan ketulusan di dalamnya. Arga kembali tersenyum dan memelukku lembut, “Terimakasih Resya, aku adalah orang paling beruntung malam ini dan sepanjang hidupku kelak.” Dia melepas pelukannya dan mengecup keningku lama.  Aku sangat senang setelah tujuh tahun berlalu, Arga kembali padaku, dia masih tetap menyayangiku. Bahkan hari ini adalah hari terindah selama tujuh tahun penantian yang tidak pasti. Akhirnya penasaranku terjawab juga. Arga Dewanta  dia masih orang yang sama orang yang selalu menyayangiku, bahkan jauh lebih baik dari yang selama ini ku kenal. Kisah penuh air mata itu terbalas dengan senyum kebahagiaan saat ini.


--END--

akhirnya terjawab juga 2


Langkahku terhenti seketika di depan jendela saat ku llihat Dita mengecup pipi Arga. Aku shock setengah mati. Ku lihat Arga melihatku dan langsung berdiri memanggilku, aku berbalik dan berlari ke mobilku. Sial trernyata Arga berhasil mengejarku dan menahanku masuk ke mobil, “Res, please dengerin gue dulu! Jangan pergi dengerin gue dulu ya.” Arga memohon kepadaku, aku tersenyum pahit melihatnya air mataku mengalir deras, “Ga, lepasin tanganku! Aku mau pulang. Saat ini aku nggak butuh denger apa-apa dari kamu. Kalo kamu emang sayang sama Dita, aku nggak keberatan Ga.” Aku berkata padanya sambil mengusap air mataku yang nggak berhenti mengalir, ku tepis tangan Arga dan kulajukan mobilku ke rumah.

Beberapa menit kemudian Arga sampai di rumahku. Dia mengetuk pintu kamarku terus-menerus dan aku masih terisak di atas kasurku yang sekarang penuh gumpalan tissu. “Resya dengerin gue! Gue minta maaf, Dita emang sering ngajak gue jalan katanya butuh bantuan gue dan gue pikir dia sahabat lo jadi nggak ada salahnya gue bantu dia, beberapa kali gue jalan sama dia Res, tapi gue anggep dia cuma temen sama kaya lo anggep dia, sampe tadi dia ngajak gue ke kafe katanya mau nanya dan ngomong penting sama gue, yaudah gue sanggupin ternyata dia malah nembak gue dan nyium pipi gue tanpa gue duga. Resya please buka pintunya! Gue minta maaf.” Tangisku makin pecah mendengar penjelasan Arga sakit sekali perasaaanku. Aku ditusuk oleh sahabatku sendiri dan aku sama sekali tidak tau bagaimana perasaan Arga padaku.

Aku mulai bicara dari balik pintu kamarku, “Kamu tau nggak? aku seneng banget kamu jadi pacarku, walaupun saat itu butuh paksaan dari mamaku dan mama kamu buat kamu nerima aku. Rasanya itu hal yang paling istimewa. Aku nggak peduli kamu nggak pernah bersikap manis sama aku, kamu nggak pernah ngomong aku kamu sama aku, sungguh aku nggak peduli saat itu, yang penting kamu mau jadi pacarku itu udah cukup Ga, sampe akhirnya aku mikir apa kamu sayang sama aku? ” Aku terdiam beberapa saaat untuk menghela napas dan melanjutkan ucapanku,

“Saat aku pulang sampe tengah malem aku harap kamu khawatir dan nanyain aku dengan sikap penuh kekhawatiran, tapi nyatanya enggak. Kamu ngebentak aku di depan mukaku, padahal aku lagi berusaha nenangin hati aku gara-gara aku liat kamu jalan sama Dita di mall dengan ekspresi penuh tawa, sesuatu yang nggak pernah aku bayangin saat kamu lagi sama aku.” Aku kembali mengusap air mataku.

“Sampai akhirnya aku sakit. Aku seneng banget saat itu kamu mau ngerawat aku sampe aku sembuh, aku berharap kamu sayang sama aku. Tapi lagi-lagi kamu nggak pernah nyatain itu ke aku. Bahkan disaat hari jadian kita Ga! Hari ini aku liat kamu di kantin, aku samperin kamu masih berharap kamu mau sedikit aja ngasih perhatian kamu ke aku, tapi lagi-lagi aku kecewa kamu malah asik ngobrol sama Dita. Bahkan saat pulang aku kabur kamu nggak telpon atau sms aku untuk sekedar mastiin aku baaik-baik aja. Puncaknya di kafe Ga! Aku liat kamu seru ngobrol sama Dita saat aku mau ikut gabung karena bosen di rumah dan hal yang mengejutkan terjadi aku liat kamu dicium Dita. Kamu tau rasanya Ga? Sakit banget! Tapi kalo kamu sayang sama Dita aku rela Ga. Aku nggak maksa kamu sama aku.” Aku menangis tersedu-sedu selesai bicara padanya. Aku kembali membuka semua lukaku.

“Resya, gue minta maaf. Gue nggak tau lo mendem semuanya sampe kaya gini.” Arga masih mengetuk pintuku, dari nada suaranya sepertinya dia juga merasakan kesedihan, lirih dan penuh penyesalan, “Kamu pulang aja Ga! Please aku mau sendiri dulu.” Ucapku akhirnya. Ku dengar langkah kakinya pergi semakin menjauh.
Tiba-tiba Hpku berbunyi, tanda ada sms masuk, lalu kubuka dan ternyata dari Dita.

From: Dita My Bf
Cwok lo gk slah Res, yg slh gw, maafin gw ya.
Sbnerny gw ska sma cwok lo dri sblm lo jdian, gw gak trma Res,
jdi gw ptsin buat ngncurin hubngn lo sma dia. Lo nggk tau kn? gmna
paniknya dia wktu lo ilng dn lo skt, gw iri sma lo Res. Smpe gw ngorbnin
prasaan gw sbg shbt lo buat ngrebut dia dri lo, tpi syng gue gak brhasil
ngerebut dia. Sekali lgi maafin gw Res.
Klo gw dtg ke rmh lo pst lo gk mau ktmu gw jdi gw hrap sms ni ckup ngjelasn smuanya.


Aku kembali menangis, tega-teganya Dita mau menghancurkan pertemanannya denganku. Bahkan dia rela menusuk diriku dari belakang. Hatiku benar-benar sakit saat ini. Ku nonaktifkan kembali HPku. Dalam waktu yang singkat merasakan sakit hati yang sangat dalam. Aku mau pergi, aku nggak bisa disini dengan keadaan hatiku yang hancur.

***

Hari ini aku kembali membolos sekolah , aku putuskan untuk menyusul orang tuaku ke Singapore, lebih baik aku tinggal disana dan memulai lagi hidupku yang baru. Di saat aku mau berangkat ku lihat Arga datang dia memarkir mobilnya sembarangan lalu dia berlari menghampiriku. Ku lihat wajahnya yang cemas dan takut suatu ekspresi yang belum pernah tunjukan padaku. Aku hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.

“Resya, jangan pergi! Gue mohon lo jangan pergi!” Ucapnya dengan nada yang sangat lirih. Aku hampir saja luluh dengan kata-katanya barusan, “Maaf Ga, aku mau berangkat nanti aku telat.” Balasku sambil mengangkat koperku ke bagasi mobil. “Kalo lo mau pergi harus sama gue, lo nggak boleh ninggalin gue Res!” Aku menatap Arga lama, aku tidak mengerti apa maunya sebenarnya.

“Mau kamu apa sih Ga? Aku capek Ga hatiku sakit! Tolong jangan kamu persulit keadaanku.” Aduh lagi-lagi aku menangis, ku lihat wajahnya ternyata dia juga sedang menatap lurus ke mataku.

“Aku sayang kamu Resya! Jangan pernah sekalipun kamu berpikir untuk ninggalin aku!” Arga mengucapkan kata-kata itu untukku, ahh tidak jangan percaya Resya! Ucapku dalam hati. “Ga kamu nggak usah bohong-bohong lagi, jelas-jelas kamu nggak pernah seneng ada di deket aku, kamu nggak pernah nunjukin ekspresi saat aku lihat kamu sama Dita kemarin. Arga aku nggak apa-apa kamu nggak perlu kasian sama aku.” Rasanya napasku semakin sesak saja.

Ku lihat Arga berlutut di hadapanku, ku lihat dia benar-benar frustasi sekarang. “Resya, aku mohon maafin aku. Dari dulu kamu bilang suka sama aku juga aku udah sayang kamu, cuma aku nggak tau gimana harus nunjukin semua itu ke kamu. Aku selalu jadi orang canggung kalo deket kamu, aku suka kamu nyamperin aku dengan sikap manja kamu, tapi balik lagi Res, aku nggak tau kenapa akhirnya aku malah jadi cuek dan nyebelin. Saat kamu ilang aku takut setengah mati, aku takut kamu kenapa-napa. HP kamu nggak bisa dihubungin ternyata kamu buang. Aku nyari kamu muter-muter tapi nggak ketemu, aku nyesel banget nggak mau nganterin kamu waktu itu, pas kamu pulang aku bener-bener khawatir, tapi nggak tau kenapa, aku jadi marah-marah lagi sama kamu. Aku liat kamu nangis aku nyesel banget aku nggak tau harus ngapain aku bingung, aku coba telpon kamu tapi malah kamu matiin Hpnya. Aku tau kamu marah sama aku, jadi aku putusin besoknya aja aku ngehubungin kamu. ” Arga berhenti sejenak melihatku dan menggenggam tanganku.

“Besoknya aku denger kabar dari Bi Nah kamu sakit. Makanan dan obat yang dia kasih nggak kamu sentuh, aku panik dan langsung ke rumah kamu. Kamu tidur ngigau macem-macem, kamu bilang kamu sakit dan apa aku sayang sama kamu. Badan kamu panas banget, sampe aku nungguin kamu semaleman. Aku takut kamu kenapa-napa dan aku bener nyesel banget saat itu. Aku lega pas kamu bangun badan kamu udah nggak panas, tapi lagi-lagi aku nggak pernah bisa bersikap manis sama kamu, bahkan aku lupa kalo itu hari jadian kita. Aku minta maaf Resya.” Arga masih memelas dan berlutut dihadapanku. Sungguh aku tidak menyangka sama sekali, ternyata Arga juga menyayangiku. Aku pun ikut berlutut di depannya.

“Sekarang kamu bangun! Aku bukan raja jadi kamu nggak perlu berlutut gitu didepanku. Aku maafin kamu kok.” Aku menarik tangannya berdiri, tapi dia masih tetap berlutut di hadapanku, “Apa kamu bakal tetep ninggalin aku?” tanyanya penasaran. Aku hanya terdiam dan menatapnya lama. Aku menghela napas pendek sebelum menjawab pertanyaannya.

“Arga, aku maafin kamu kok, Cuma aku nggak bisa tetep disini, terlalu nyakitin untuk aku Ga, aku butuh waktu untuk nyusun hatiku, walaupun kamu bilang kamu sayang sama aku, rasanya udah terlanjur sakit Ga. Kesabaranku udah habis, maaf Ga aku tetep harus pergi. Kalo emang kita berjodoh kita bakal ketemu lagi suatu saat nanti. Tapi disaat itu aku ataupun kamu jangan ada yang berusaha untuk saling mencari biar semua jalan apa adanya. Aku sayang kamu Ga sekarang dan mudah-mudahan sampai waktu itu tiba. Sekarang aku mau pergi jadi aku mohon kamu berdiri dan lepasin aku.”

Arga berdiri dan memelukku erat, aku merasakan dia sangat tidak ingin aku pergi, tapi keputusanku sudah bulat. Aku harus menata ulang hidupku dan melupakan rasa sakit ini. “Resya, aku udah nggak bisa nahan kamu lagi. Sekali lagi aku Cuma bisa bilang maaf buat kekecewaan kamu atas segala sikapku. Aku emang cowok tolol yang nggak bisa bikin kamu seneng. Semoga kamu bahagia dengan keputusan kamu. Aku sayang kamu!” selesai bicara Arga langsung mengecup keningku pelan. Ini sungguh perlakuan termanis yang aku terima dari cowokku.

Aku tersenyum sebelum masuk mobil yang mengantarku ke Bandara, aku lambaikan tanganku ke arahnya dan dia membalasnya. Dalam hati aku berucap, selamat tinggal Arga semoga setelah ini aku atau kamu tidak ada lagi yang terluka.

bersambung....