Akhirnya Terjawab Juga bag 1
Hari minggu ini aku sangat bosan, semua orang di rumahku pergi. Saat
aku bangun tidur tadi aku hanya disapa Bi Nah pembantuku. Aku memang
sudah, terbiasa begini orang tuaku sibuk, lebih tepatnya ayahku yang
sibuk tapi mamaku selalu ingin mendampingi ayahku yang sekarang sedang
menetap di Singapore. Mereka romantis ya? Ahh lebih baik ku sms Arga
saja, dia pacarku walaupun hubungan kami tidak seperti orang tuaku tapi
aku senang menjadi pacarnya.
To: My Arga
Arga,kmu udh bngun blm?
Bisa tmenin aku prg gak hri nih?
From: My Arga
Udh, kmana sh?
Gue mls keluar Res, kpn2 aj ya.
Lgian ga stiap lo prgi hrs sma gue kn?
Blajar hdup sndri, jgn mnja!
Setelah kubaca smsnya langsung ku buang handphoneku. Aku hanya
memintanya pergi denganku kalau tidak mau ya sudah, kenapa harus bicara
seperti itu? Aku sudah dua tahun pacaran sama Arga, memang sih aku yang
menyatakan perasaanku padanya dan ternyata dia menerimaku, walaupun ada
sedikit paksaan dari mamaku dan mamanya. Orang tua kami memang berteman
dekat, tapi selama aku dan Arga pacaran, dia nggak pernah bersikap
seperti pacarku, dia dingin dan cuek terhadapku. Bahkan bicara denganku
saja dia tidak pernah menggunakan aku dan kamu, apalagi memanggilku
dengan sebutan sayang. Tapi aku sangat menyayanginya walaupun sikapnya
begitu padaku, mungkin hari ini dia capek, ya sudah aku pergi sendiri
saja. soalnya Dita sahabatku sedang ada acara keluarga, pasti dia sibuk.
***
Aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke mall di kotaku. Hari ini aku
ingin membeli sesuatu untuk Arga karena lusa adalah hari jadian kami
yang ke dua tahun. Lalu kudatangi toko baju lebih baik aku belikan saja
baju itu lebih aman pikirku. Disaat aku sedang melihat-lihat baju, aku
melihat sosok yang tidak asing bagiku. Arga dan Dita jalan bareng,
mereka tertawa dan bercanda sesuatu yang tidak pernah Arga lakukan
bersamaku. Jujur saja hatiku sakit, tapi aku harus berpikir positif
mungkin Arga ingin memberiku kado jadian dan dia memerlukan pendapat
Dita, karena Dita sahabatku sejak dulu.
Cepat-cepat ku bayar baju yang kupilih dan ku tinggalkan mall itu.
Ternyata hati dan pikiranku bertolak belakang aku cemburu melihat
kejadian tadi. Ku lajukan mobilku entah kemana, sampai aku lelah
berputar-putar selama tiga jam. Ku tepikan mobilku dipinggir jalan,
lagi-lagi terbayang adegan di mall tadi antara Arga dan Dita. Tuhan
bantu aku jernihkan pikiranku, aku sangat bingung hatiku sakit
melihatnya, aku menangis sambil membenamkan wajahku pada kemudi mobil,
setelah tenang aku bangun dan melihat jam di dasbord mobilku ternyata
sudah pukul sepuluh malam, ternyata aku terlalu lama menangis. Ku
lajukan mobilku pulang ke rumah dengan cepat. Sampai di rumah aku
langsung disambut tatapan garang dari Arga, dia menghampiriku dengan
setengah berlari.
“Lo kemana aja sih Res? Seneng banget bikin orang pusing gara-gara
lo! Sampe nyokap lo telpon gue gara-gara khawatir sama lo! Kata Bi Nah
lo pergi dari jam sepuluh pagi, lo liat sekarang jam berapa? Jam
setengah dua belas malem Resya! Mana handphone pake segala lo buang ke
tempat sampah, untung Bi Nah nemuin. Udah nggak butuh handphone lo?
Jawab gue Resya! ” Aku menatap Arga dengan mataku yang berlinang, ku
pikir dia akan menanyaiku dengan baik-baik karena mengkhawatirkanku
ternyata hanya ucapan yang keras penuh kekesalan yang kudengar darinya.
“kenapa? aku kan nggak ganggu acara kamu. Tadi aku di suruh pergi
sendiri sekarang kamu teriak-teriak di depan muka ku, kamu punya
perasaan apa nggak sih Ga? Aku kira kamu khawatir sama aku, ternyata
cuma gara-gara mamaku yang nyuruh kamu nyari aku. Kamu pulang aja udah
malem dan besok sekolah, nanti aku yang telepon mamaku, makasih.” Tak
terasa air mataku jatuh juga di depannya ku lihat dia terdiam mendengar
ucapanku lalu aku berlari masuk ke kamarku. Ku lihat handphoneku ada 7
miscall dari mamaku, 4 miscall dari papaku dan 3 miscall dari Dita,
bahkan untuk menghubungiku saja Arga tidak melakukannya. Tiba-tiba HPku
berbunyi tertera nama My Arga disana, lalu ku nonaktifkan Hpku lebih
baik begini pikirku. Aku lelah hari ini dan aku tertidur dengan wajah
yang pias karena habis menangis.
***
Hari ini aku tidak masuk sekolah karena kepalaku agak pusing dan
badanku panas, sepertinya aku demam karena kemarin aku terlalu lelah dan
banyak pikiran sampai tidak ingat makan. Aku menghabiskan waktuku untuk
membaca novel , tapi pikiranku tidak terfokus ke alur ceritanya. Hatiku
masih terasa sakit mengingat kejadian kemarin saat Arga tertawa riang
bersama Dita dan saat Arga memarahiku dengan penuh emosi kekesalan, itu
due kejadian yang saling bertentangan. Air mataku kembali menetes, namun
cepat-cepat aku menghapusnya.
Tokk..tokk..tokk pintu kamarku di ketuk, “masuk!” seruku. Dan kulihat
Dita datang dengan wajah yang panik, aku tersenyum melihatnya, senyum
yang hambar kalau dia menyadarinya. “Resya! Lo kenapa? Sakit ya, terus
lo kemarin kemana aja sih? Semua orang panik nyari lo.” Tanyanya padaku,
“Gue cuma jalan-jalan kok, Arga katanya males keluar dan gue nggak enak
ganggu lo. ” ucapku masih sambil tersenyum, ku lihat dia agak salah
tingkah .
“Maaf ya, coba aja kemarin gue nggak ada acara keluarga lo bakal gue
temenin kemanapun lo mau.” Ucap Dita masih dengan nada bersalah. Ku
pandangi Dita, apa dia sahabatku kenapa dia berbohong? Aku lelah sangat
lelah dengan kenyataan ini, aku kembali tersenyum padanya “Dit, gue
pusing dan ngantuk gue mau tidur dulu ya? Maaf banget.” Ujarku, lalu
kulihat dia berdiri dan membalas senyumku.
“Yaudah lo tidur ya, istirahat biar cepet sembuh, gue balik sekarang
gue cuma mastiin lo nggak kenapa-napa.” Dita keluar kamarku dan ku
pandangi dia sampai dia menghilang dibalik pintu. Kenapa kamu bohong
Dit? Tuhan jangan sampai aku berpikiran negatif terhadap sahabatku. Aduh
kepalaku sangat pusing, kulirik meja disampingku makanan dan obat tidak
ada yang ku minum. Bagiku sakit yang ada di dalam hatiku jauh lebih
sakit, jadi untuk apa aku mengobati sakit yang hanya demam. Aku pun
tertidur karena tidak kuat merasa sakit kepala yang luar biasa.
***
Pagi ini ku terbangun aku kaget melihat Arga tertidur disamping
tempat tidurku. Aku tersenyum melihatnya, jujur aku senang karena baru
pertama kali Arga begini, namun senyumku langsung lenyap saat ingat ini
pasti permintaan mamaku atau Tante Dea mamanya Arga. Ku lihat meja
disamping tempat tidurku ada baskom yang berisikan air dan lap handuk,
mungkin itu digunakannya untuk mengompresku semalam. Ku guncang tangan
Arga pelan, dia pun terbangun. “kamu ngapain disini?” tanyaku, namun dia
langsung memegang dahiku dan mengukur suhu tubuhku dengan termometer,
saat dipastikan suhu badanku normal dia membereskan semuanya tanpa
bicara padaku, “kamu disini pasti disuruh mamaku atau Tante Dea kan?
tapi nggak papa makasih ya, udah jagain aku.” Aku bangkit dari tempat
tidurku dan hendak ke kamar mandi untuk mencuci muka, namun kepalaku
masih agak pusing sehingga keseimbangan tubuhku agak goyah Arga dengan
sigap menanggkap tubuhku.
“Lo mau kemana sih? Jelas-jelas belum sembuh bener.” Ucapnya sambil
membantuku kembali ke tempat tidur. “Kalo aku nggak jatuh tadi kamu
pasti diemin aku. Salahku apa Ga?” Arga masih diam, dia sibuk
membereskan baskom dan handuk yang dipakainya untuk mengompresku
semalam, lalu dia keluar kamarku dan kembali mebawakan sarapan untukku,
“makan terus minum obatnya!” perintahnya. Aku memalingkan mukaku
darinya, “Nggak mau, aku kenyang.” Ucapku datar. Dia menghela napasnya
berat, “Res, lo harus makan! Nggak mungkin lo kenyang Bi Nah bilang
semua makanan yang dia bawain buat lo nggak ada yang lo sentuh.
"Ayo dong Res makan, lo nggak kasian liat gue? Kalo lo sakit, disuruh
ataupun nggak gue sama nyokap lo gue tetep bakal disini karena gue
cowok lo, sekarang gue capek banget jadi lo makan ya? ” Arga membujukku
ya walaupun masih ada nada tegas di dalamnya aku tidak peduli sama
sekali.
Aku girang setengah mati dengan kata-katanya baru kali ini dia
bersikap manis padaku, aku pun mengangguk dan mau makan. Setelah makan
dan minum obat Arga menyuruhku untuk tidur lagi, dia mau pulang dulu
untuk istirahat, “Makasih kamu mau ngerawat aku ya. Ngomong-ngomong kok
kamu tau aku sakit? ” tanyaku penasaran, dia duduk di depanku dan
mengancamku, “Awas kalo lo matiin HP lagi! Gue jadi repot gara-gara
itu.”
Dia bangkit dari duduknya dan hendak pergi namun ku tahan tangannya,
“Tunggu aku punya sesuatu buat kamu, Happy Anniversary dua tahun ya Ga.”
Ucapku sambil memeberikan kado yang kusiapkan untuknya dengan senyum
termanis yang ku punya tentunya. Dia mengambil hadiah dariku dan
mengusap lembut kepalaku lalu dia pamit pulang, “Gue balik dulu ya Res.”
Aku mengangguk dan kembali tiduran di tempat tidurku. Hari ini aku
senang sekali Arga mengusap kepalaku dan bersikap lebih lembut hari ini.
***
Sudah seminggu hari manis itu berlalu, tapi sampai sekarang Arga
tidak memberiku apa-apa. Bukannya aku pamrih tapi bukan sudah sewajarnya
dia memberiku sesuatu. Tak apalah yang penting aku senang karena dia
masih setia menjadi pacarku, toh aku juga sudah melupakan kejadian waktu
itu aku melihat Arga dan Dita bersama di mall, mungkin mereka memang
punya keperluan lain atau sekedar tidak sengaja bertemu.
Aku sedang berjalan ke kantin bersama Dita sahabatku, lalu kulihat
Arga sedang duduk bersama temannya di kantin lalu ku hampiri dia, “Ga,
anterin aku pulang ya, mobilku rusak aku nggak bawa mobil hari ini” aku
memelas dihadapannya, agar dia iba padaku dan mau mengantarku pulang,
“Iya, iya, lo mau makan?” katanya “Iya, tadi aku nggak sarapan. Jadi,
aku ngajak Dita makan sekarang. Kamu udah makan?” tanyaku padanya “Udah
tuh baru selesai.”
“Ehemm berasa nyamuk nih kita, iya nggak Dit? Gue cabut dulu deh ke
kelas.” Riko teman Arga menyindir aku dan Arga, aku hanya tertawa pelan
dan Dita pun mengangguk setuju dengan ucapan Riko, “Ehh elo Dit, makan
juga nih?” Arga memulai percakapan dengan Dita, “Iya Ga, gue laper
lagian tadi udah di tarik-tarik sama Resya.” Mereka bercakap-cakap
sendiri mengacuhkanku yang berada disebelah Arga. Bahkan mereka bercanda
dan tertawa tanpa memandangku.
Aku merasakan sakit lagi, sakit yang sama saat pertama melihat mereka
jalan berdua di mall. Perlahan aku meninggalkan mereka berdua di
kantin, rasanya aku tak sanggup berada di sana lebih lama. Pulang
sekolah aku tidak jadi minta diantar Arga, saat bel pulang berbunyi aku
langsung kabur menninggalkan Dita dan Arga. Aku rasa aku butuh
ketenangan, tapi aku kecewa Arga tidak mencariku dia juga tidak
menelepon atau mengirim sms menanyakan keadaanku. Aku lelah seperti ini.
Ku tepis perasaanku dan pikiran burukku, lebih baik aku berpikir
positif, Dita sahabat baikku dan Arga pacarku mereka orang terdekatku
saat ini dan aku percaya pada mereka. Bosan sekali rasanya di rumah
buku-buku bacaanku juga habis jadi ku putuskan pergi ke toko buku dan
membeli beberapa buku bacaan, karena mobilku dibengkel aku pakai punya
mama aja lah, cuma ke toko buku bukan pergi jarak jauh.
Sesampainya di toko buku, aku langsung memborong sekaligus 8 judul
buku yang menurutku bagus, aku sangat suka membaca jadi setiap bulan
pasti aku membeli buku, minimal lima bukulah. Setelah selesai mambayar
aku ingin langsung pulang, tapi aku melihat Dita dan Arga sedang duduk
berdua di Kafe yang letaknya di sebrang toko buku langgananku. Mereka
sepertinya sedang seru mengobrol dan bercanda, aku pun berniat
menghampiri mereka dan ikut mengobrol karena aku sangat bosan di rumah.
Langkahku terhenti seketika di depan jendela kafe itu...
bersambungg~